Paket Wisata Karimunjawa
024-76404081 / 085290682990 / 085777709570 / 085225965955
IG: @kawan_kurnia / FB: Kurnia Karimunjawa Tour
Basecamp Karimunjawa | Jepara | Semarang | Kudus
Paket Wisata Karimunjawa

SEJARAH SINGKAT PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI KARIMUNJAWA


wisata-karimunjawa
Gambar 1.1 makam sunan nyamplungan

Sejarah Singkat penyebaran islam di Karimunjawa kali ini saatnya kita ulas untuk menambah wawasan sejarah. Karimunjawa sendiri terletak‎ di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah terdiri dari 14 kecamatan, salah satu diantaranya adalah Kecamatan ‎Karimunjawa. Salah satu wilayah kecamatan yang terdiri dari 3 desa merupakan gugusan dari 27 ‎buah pulau yang ada dan terhampar luas di laut Jawa dengan jumlah penduduk sekitar 8.000 ‎jiwa.‎

Kecamatan ini merupakan kawasan alam dilindungi karena memiliki sumber daya alam ‎khas wisata Karimunjawa dan unik baik dalam bentuk flora, fauna, ekosistem. Kondisi alam menjadikan ‎Wisata Karimunjawa sebagai cagar laut sangat potensial. ‎Harga Wisata Karimunjawa juga sangat terjangkau untuk anda yang penasaran dengan wisata Karimunjawa.

Dari penjelasan diatas sudah kita temukan obat kebingungan kita, Ternyata wisata Karimunjawa ikut ‎wilayah kabupaten Jepara. Rasanya tidak lengkap jika tidak tau asal usul wisata Karimunjawa yang ‎memiliki potensi alam sangat istimewa. Berikut penjelasan asal mula penyebaran islam di wisata Karimunjawa :‎

Salah satu dari tiga makam wali di Wisata Karimunjawa adalah makam Sunan Nyamplungan, yaitu ulama besar abad ke 15 M yang memiliki nama asli Amir Hasan. Menurut satu versi, Beliau adalah anak dari Sunan Kudus. Sedangkan menurut versi lain, beliau keturunan dari Sunan Muria.

Menanggapi dua pendapat ini menurut KH. Nashrullah Huda, salah satu Kyai Muda aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Jepara, kemungkinan benar adalah pendapat pertama, yakni beliau putra dari Sunan Kudus memiliki nama lengkap Syaikh Ja’far Shodiq. Adapun posisi Sunan Muria bagi Syaikh Amir Hasan hanya sebagai orang tua intelektualnya.

Lebih jauh Gus Nashrul, demikian KH. Nashrullah akrab disapa, menceritakan bahwa beliau sejak kecil mulanya tinggal di pondok pesantren milik ayahnya, Sunan Kudus. Sunan Kudus saat itu di samping sebagai muballigh dekat dengan rakyat juga menjadi penasihat kerajaan. Kontribusi Sunan Kudus dalam penyebaran Islam Nusantara khususnya Jawa Tengah tidak diragukan lagi, sampai sekarang ajaran-ajaran beliau masih melekat hangat di hati masyarakat, khususnya penduduk asli Kudus.

Sebagai orang besar Sunan Kudus sering keluar rumah meninggalkan pesantrennya untuk memenuhi tugas-tugasnya sebagai orang yang mengabdi kepada rakyat dan Negara. Suatu ketika Sunan Kudus diminta oleh Raden Fatah untuk memimpin peperangan yang diperkirakan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebelum berangkat ke medan perang Sunan Kudus meminta kepada putranya, Amir Hasan, untuk menggantikan tugas-tugasnya di pondok pesantren asuhannya.

Sejak itu Amir Hasan muda berperan sebagai pengasuh pesantren, namun ternyata pelajaran-pelajaran yang diberikan Amir Hasan kepada santri-santrinya tidak sesuai dengan harapan Sunan Kudus. Santri-santri Sunan Kudus diberi pelajaran secara lahiriyah tidak memiliki keterkaitan dengan ilmu-ilmu agama, yakni pelajaran kesenian seperti gamelan.

Ketika Sunan Kudus mengetahui tindakan putranya kepada santri-santrinya, Sunan Kudus meminta putranya, Amir Hasan untuk tidak mengajar lagi dan meninggalkan rumah. Lalu Amir Hasan pergi ke rumah bibinya yaitu istri Sunan Muria. Sejak itulah Amir Hasan tinggal bersama Sunan Muria. Selama tinggal disana Amir Hasan belajar ilmu agama dan kanuragan atau bela diri kepada Sunan Muria.


wisata-karimunjawa
Gambar 1.2 ziarah makam sunan nyamplungan

Ketika ilmu Amir Hasan dipandang sudah cukup, Amir Hasan diperintahkan oleh Sunan Muria menyebarkan agama Islam di wilayah sekitar Muria. Dengan ditemani oleh dua orang murid Sunan Muria, beliau pergi ke ujung pulau. Ujung pulau dalam bahasa Jawa dinamakan dengan “ujung poro”, dikemudian hari wilayah ini disebut dengan “Jeporo (Indonesia; Jepara)”, diambil dari kata “ujung poro”.

Setelah sampai Jepara beliau melihat sebuah tempat terlihat sangat kecil dari pandangannya, dalam bahasa Jawa disebut dengan “kremun-kremun”. Kemudian hari pulau terlihat kremun-kremun ini dinamakan dengan “Karimunjawa”. Amir Hasan bersama kedua temannya membuat perahu lalu menyeberang laut menuju pulau kremun-kremun. Sesampainya di wisata Karimunjawa beliau disambut oleh bajak laut, saat itu karimun menjadi wilayah ganas dihuni oleh kelompok bajak laut tidak mengenal belas kasihan terhadap sesama. Beliau mengucapkan salam kepada bajak laut, tapi tidak dijawab, bajak laut menginterogasi beliau dan menantangnya untuk bertarung.

Akhirnya terjadilah pertarungan dahsyat antara Amir Hasan melawan bajak laut. Dengan kepandaian bela dirinya dan kedigdayaan tubuhnya, Amir Hasan berhasil mengalahkan kelaliman bajak laut wisata Karimunjawa. Untuk mengenang tempat perkelahian ini dikemudian hari penduduk wisata Karimunjawa membuat “legon bajak”, semacam teluk yang hingga kini bisa dikunjungi oleh semua wisatawan wisata Karimunjawa.

Di Karimunjawa beliau dengan cerdas mengajarkan Islam kepada masyarakat wisata Karimunjawa melalui kesenian-kesenian lokal wisata Karimunjaa bermuatan ajaran-ajaran Islam. Islam yang diperkenalkan beliau bukan Islam yang menjadikan masyarakat wisata Karimunjawa takut, tapi Islam memberi kenyamanan dan kerukunan bagi semua masyarakat wisata Karimunjawa. Hingga kini Islam ramah ala Syaikh Amir Hasan masih bisa dirasakan masyarakat wisata Karimunjawa. Masyarakat Karimunjawa memeluk Islam tapi sangat toleran terhadap keberagaman yang dibawa oleh wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.

Beliau punya banyak murid di Karimunjawa. Kini salah satu tokoh agama Islam Karimunjawa sanad keilmuannya sampai kepada Syaikh Amir Hasan adalah KH. Abdul Mun’im, Rois Syuriyah MWC NU Karimunjawa. Guru Mbah Mun’im, sapaan akrab KH. Abdul Mun’im, belajar kepada gurunya, dan gurunya mendapatkan ilmu dari gurunya lagi sampai pada Syaikh Amir Hasan.

Kontribusi beliau dalam penyebaran Islam wisata Karimunjawa juga diakui oleh KH. A’wani, Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah. Menurut Mbah A’wani, arti dari nama Amir Hasan sudah mencerminkan bahwa beliau bukan orang sembarangan, tapi beliau adalah penyeru kebaikan sebagaimana arti namanya pemimpin kebaikan. Di samping itu dengan melihat genealogi biologisnya beliau masih keturunan nabi Muhammad atau habib. Pada masa itu habib di Indonesia giat mendakwahkan ajaran Islam sehingga dapat dipastikan beliai juga demikian, yakni memberi pendidikan agama kepada masyarakat.

0 Response to "SEJARAH SINGKAT PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI KARIMUNJAWA"

PEMESANAN TIKET PESAWAT KARIMUNJAWA

PEMESANAN TIKET PESAWAT KARIMUNJAWA
Pemesanan Tiket Pesawat Ke Karimunjawa

Populer di karimun Jawa