Paket Wisata Karimunjawa
024-76404081 / 085777709570 (+WA) / 085225965955 (+WA) / 085290682990 (+WA)
IG: @kawan_kurnia / FB: Kurnia Karimunjawa Tour
Basecamp Karimunjawa | Jepara | Semarang | Kudus
Paket Wisata Karimunjawa

UNSUR BUDAYA DALAM KISAH PERSEBARAN ISLAM DI KARIMUNJAWA


wisata-karimunjawa
Gambar 1.1 makam sunan nyamplungan

Salah satu dari tiga makam wali di wisata Karimunjawa adalah makam Sunan Nyamplungan, yaitu ulama besar abad ke 15 M yang memiliki nama asli Amir Hasan. Menurut satu versi, Beliau adalah anak dari Sunan Kudus. Sedangkan menurut versi lain, beliau keturunan dari Sunan Muria.

Menanggapi dua pendapat ini menurut KH. Nashrullah Huda, salah satu Kyai Muda aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Jepara, yang kemungkinan benar adalah pendapat pertama, yakni Syaikh Amir Hasan putra dari Sunan Kudus memiliki nama lengkap Syaikh Ja’far Shodiq. Adapun posisi Sunan Muria bagi Syaikh Amir Hasan hanya sebagai orang tua intelektualnya. “Saya lebih condong pada versi yang mengatakan beliau putra sunan Kudus,” ungkapnya.

Lebih jauh Gus Nashrul, demikian KH. Nashrullah akrab disapa, menceritakan bahwa Amir Hasan kecil mulanya tinggal di pondok pesantren milik ayahnya, Sunan Kudus. Sunan Kudus saat itu di samping sebagai muballigh dekat dengan rakyat juga menjadi penasihat kerajaan. Kontribusi Sunan Kudus dalam penyebaran Islam di Nusantara khususnya Jawa Tengah tidak diragukan lagi, sampai sekarang ajaran-ajaran beliau masih melekat hangat di hati masyarakat, khususnya penduduk asli Kudus.

Sebagai orang besar Sunan Kudus sering keluar rumah meninggalkan pesantrennya untuk memenuhi tugas-tugasnya sebagai orang yang mengabdi kepada rakyat dan Negara. Suatu ketika Sunan Kudus diminta oleh Raden Fatah untuk memimpin peperangan yang diperkirakan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebelum berangkat ke medan perang Sunan Kudus meminta kepada putranya, untuk menggantikan tugas-tugasnya di pondok pesantren asuhannya.

Sejak itu Amir Hasan muda berperan sebagai pengasuh pesantren, namun ternyata pelajaran-pelajaran yang diberikan Amir Hasan kepada santri-santrinya tidak sesuai dengan yang diharapkan Sunan Kudus. Santri-santri Sunan Kudus diberi pelajaran yang secara lahiriyah tidak memiliki keterkaitan dengan ilmu-ilmu agama, yakni diberi pelajaran kesenian seperti gamelan.

Ketika Sunan Kudus mengetahui tindakan putranya kepada santri-santrinya, Sunan Kudus meminta putranya untuk tidak mengajar lagi dan meninggalkan rumah. Lalu Amir Hasan pergi ke rumah bibinya yang menjadi istri Sunan Muria. Sejak itulah Amir Hasan tinggal bersama Sunan Muria di puncak gunung Muria. Selama di Muria Amir Hasan belajar ilmu agama dan kanuragan atau bela diri kepada Sunan Muria.

Ketika ilmu Amir Hasan dipandang sudah cukup, Amir Hasan diperintahkan oleh Sunan Muria untuk menyebarkan agama Islam di wilayah sekitar Muria dan Wisata Karimunjawa. Dengan ditemani oleh dua orang murid Sunan Muria, Amir Hasan pergi ke ujung pulau. Ujung pulau dalam bahasa Jawa dinamakan dengan “ujung poro”, dikemudian hari wilayah ini disebut dengan “Jeporo (Indonesia; Jepara)”, diambil dari kata “ujung poro”.

Setelah sampai di Jepara Beliau melihat sebuah tempat yang terlihat sangat kecil dari pandangannya, dalam bahasa Jawa disebut dengan “kremun-kremun”. Dikemudian hari pulau terlihat kremun-kremun ini dinamakan dengan “Karimunjawa”. Beliau bersama kedua temannya membuat perahu lalu menyeberang laut menuju pulau kremun-kremun. Sesampainya di Karimunjawa Amir Hasan disambut oleh bajak laut, saat itu Karimunjawa menjadi wilayah ganas dihuni oleh kelompok bajak laut tidak mengenal belas kasihan terhadap sesama. Amir Hasan mengucapkan salam kepada bajak laut, tapi tidak dijawab, bajak laut menginterogasi Amir Hasan dan menantangnya untuk bertarung di tengah laut Wisata Karimunjawa.

Akhirnya terjadilah pertarungan dahsyat antara Amir Hasan melawan bajak laut di wisata Karimunjawa. Dengan kepandaian bela dirinya dan kedigdayaan tubuhnya yang dibekali oleh Sunan Muria, Amir Hasan berhasil mengalahkan kelaliman bajak laut wisata Karimunjawa. Untuk mengenang tempat perkelahian ini dikemudian hari penduduk Karimunjawa membuat “legon bajak”, semacam teluk  hingga kini bisa dikunjungi oleh semua wisatawan wisata Karimunjawa.


Gambar 1.2 ziarah makam sunan nyamplungan

Di Karimunjawa Amir Hasan dengan cerdas mengajarkan Islam kepada masyarakat melalui kesenian-kesenian lokal yang bermuatan ajaran-ajaran Islam. Islam yang diperkenalkan Beliau bukan Islam menjadikan masyarakat Karimunjawa takut, tapi Islam memberi kenyamanan dan kerukunan bagi semua masyarakat wisata Karimunjawa. Hingga kini Islam ramah ala Syaikh Amir Hasan masih bisa dirasakan masyarakat wisata Karimunjawa. Masyarakat Karimunjawa memeluk Islam tapi sangat toleran terhadap keberagaman yang dibawa oleh wisatawan wisata Karimunjawa baik dari dalam maupun manca Negara.

Amir Hasan punya banyak murid di Karimunjawa. Kini salah satu tokoh agama Islam yang sanad keilmuannya sampai kepada Syaikh Amir Hasan adalah KH. Abdul Mun’im Rois Syuriyah MWC NU Karimunjawa. Guru Mbah Mun’im, sapaan akrab KH. Abdul Mun’im, belajar kepada gurunya, dan gurunya mendapatkan ilmu dari gurunya lagi sampai pada Syaikh Amir Hasan.

Kontribusi Beliau dalam penyebaran Islam di wisata Karimunjawa juga diakui oleh KH. A’wani, Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah. Menurut Mbah A’wani, arti dari nama Amir Hasan sudah mencerminkan bahwa sosok Amir Hasan bukan orang sembarangan, tapi beliau adalah penyeru kebaikan sebagaimana arti namanya pemimpin kebaikan. Di samping itu dengan melihat genealogi biologisnya Beliau masih keturunan nabi Muhammad atau habib. Pada masa itu habib di Indonesia giat mendakwahkan ajaran Islam sehingga dapat dipastikan Beliau juga demikian, yakni memberi pendidikan agama kepada masyarakat wisata Karimunjawa.

“Kalau keturunan nabi sudah pasti menyebarkan Islam. Beliau sampai di wisata Karimunjawa sudah pasti tidak ada hal lain kecuali menyebarkan Islam,” papar Mbah A’wani.

Ajaran Sunan Nyamplungan

Sunan Nyamplungan, nama yang disematkan kepada Beliau mungkin diambil dari tempat beliau berdomisili, yaitu di Desa Nyamplungan wisata Karimunjawa. Kini makam dan petilasannya ada di puncak gunung desa wisata Karimunjawa. Untuk mengunjungi makam sunan nyamplungan tak perlu merogoh kocek dalam-dalam karena Harga Wisata Karimunjawa murah nya kebangetan.

Menurut KH. Hisyam Zamroni, dalam berdakwah Beliau menggunakan media budaya wisata Karimunjawa sehingga mudah dicerna dan diingat oleh masyarakat wisata Karimunjawa saat itu, diantara dakwah paling populer antara lain menggunakan kayu, yakni memberi nama pada kayu dengan istilah-istilah ajaran Islam seperti kayu kalimosodo, kayu dewondaru, dan kayu setigi khas dari wisata Karimunjawa.

Dengan memberi nama kalimosodo Beliau mengajak masyarakat wisata Karimunjawa supaya membaca kalimat syahadat sebagai komitmen diri untuk menghamba kepada Tuhan Maha Pencipta. Dewondaru memiliki makna kekuatan (la haula wa la quwwata illa billah), artinya kesadaran diri bahwa manusia sesungguhnya tidak memiliki kekuatan sehingga tidak pantas jika manusia berlaku sombong dan lalim seperti bajak laut yang dijumpai Syaikh Amir ketika menuju wisata Karimunjawa. Setigi artinya adalah segitiga, untuk menjadi pribadi sempurna harus memadukan tiga unsur, yaitu iman, islam, ihsan.

“Beliau melakukan dakwahnya dengan seperti ini, dengan pendekatan kultural ke masyarakat wisata Karimunjawa, sehingga penduduk Wisata Karimunjawa 99,9 persen muslim,” tutur KH. Hisyam Zamroni, wakil rois syuriyah MWC NU Karimunjawa.

Masyarakat wisata Karimunjawa memeluk Islam tentu dengan pilihannya tulus, pilihan masyarakat wisata Karimunjawa didasarkan pada ketertarikannya terhadap dakwah beliau di wisata Karimunjawa sangat halus, ramah dan tidak marah, meringankan dan tidak memberatkan.

Bagi Mbah A’wani, cara dakwah kepada masyarkat wisata Karimunjawa dikembangkan oleh Syaikh Amir Hasan sangat kontekstual dan akomodatif terhadap budaya wisata Karimunjawa setempat. Kini seiring dengan laju kerasnya kelompok keislaman tidak ramah terhadap budaya lokal wisata Karimunjawa menjadi tantangan sendiri bagi para ulama, karena menurutnya dari dulu Islam itu sebenarnya ramah terhadap budaya wisata Karimunjawa. “Islam di manapun sama saja, ibadahnya sama. Islam ramah dengan budaya,” tutur Mbah A’wani.

0 Response to "UNSUR BUDAYA DALAM KISAH PERSEBARAN ISLAM DI KARIMUNJAWA"

Populer di karimun Jawa